The World’s End; Episode III of Cornetto Trilogy

Gary King (Simon Pegg) nyaris punya pengalaman indah saat remaja di kota Newton Haven, dimana ia bersama teman-temannya menjalankan sebuah ritual bernama “The Golden Mile”, yaitu acara minum segelas bir dari setiap tempat minum bar/pub yang ada di kota itu, totalnya ada 12 pub. Sayangnya kegiatan tersebut tidak bisa terlaksana hingga selesai, hingga ketika King dewasa dan menjadi manusia tak berguna, King nekat mengajak rekan-rekannya, Steven (Paddy Considine), Oliver (Martion Freeman), Peter (Eddie Marsan) dan Andy (Nick Frost) untuk kembali melakukan “The Golden Mile”, meskipun agak susah mengumpulkan dan mengajak mereka karena masing-masing sudah punya kesibukan sendiri. Dengan berat hati teman-teman Gary King menjalani ritual ini (lagi) hingga ketika mereka sampai ke pub yang ke empat mereka mendapatkan fakta bahwa penduduk kota kecil Newton Haven telah diambil alih oleh alien. Agar tidak ketahuan oleh para alien maka dengan semangat 45 ditambah ketakutan luar biasa mereka tetap menjalankan niat mereka mengunjungi satu persatu pub yang sudah direncanakan dan finish di pub terakhir bernama The World’s End.
Film ini adalah kisah terakhir dari sebuah trilogi yang disebut The Cornetto Trilogy. Jika Anda belum pernah mendengar The Cornetto Trilogy maka saya sarankan Anda untuk menyaksikan dua film pertama yang rilis lebih dulu berjudul Shaun of the Dead (2004) serta Hot Fuzz (2007). Jangan heran bila sudah menyaksikan ketiganya tapi tidak menemukan kesamaan cerita karena memang ketiganya berdiri sendiri-sendiri dan tidak berhubungan sama sekali. Benang merah antara ketiganya hanyalah ketiga filmnya disutradarai Edgar Wright, dibintangi Simon Pegg dan Nick Frost serta Martin Freeman, Bill Nighy dan Rafe Spall, ada penampakan es krim Cornetto (rasa red strawberry, original blue dan green mint untuk mewakili masing-masing film) dan tak ketinggalan adanya adegan ‘merusak’ taman dan pagar depan rumah yang pasti ada di ketiga film tersebut. Untuk sebuah Science fiction Comedy atau Social Science Fiction menurut versi Edgar Wright, film The World’s End bisa dibilang cukup menarik. Paruh pertama yang berisi banyak drama dan dialog humor memang agak menjemukan, namun ketika mereka mulai ‘berinteraksi’ dengan para alien, intensitas aksinya meningkat hingga ke akhir film, meskipun endingnya buat saya sangat konyol tapi cukup menghibur. Favorit saya pribadi dari trilogi Cornetto adalah Shaun of the Dead karena cukup banyak kritik menarik yang membuat saya tertawa. The World’s End juga tidak jelek dan menawarkan kritik yang sama jika Anda jeli dan tahu bahwa film ini ‘mengejek’ genre sci-fi yang mementingkan spesial efek ketimbang cerita yang bagus.

It scores 6 outta 10!

Posted via Blogaway

Leave a Reply