The Giver; Dystopian story 20 years in the making

Film The Giver diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Lois Lowry yang beredar tahun 1993 dan mendapatkan penghargaan Newbery Medal di tahun 1994. Kisahnya tentang sebuah komunitas manusia yang bertahan hidup setelah peristiwa ‘The Ruin’ yang menghancurkan peradaban manusia. Komunitas ini melakukan persamaan perlakuan terhadap semua penghuninya, tidak ada emosi, tanpa feeling dan tanpa warna (literally). Ketika berusia 16 tahun masing masing individu diberi ‘tugas’ sesuai dengan instruksi dari para elder yang dipimpin Chief Elder (Meryl Streep). Seorang pemuda bernama Jonas (Brenton Thwaites) mendapatkan tugas yang cukup langka sekaligus unik yaitu menjadi The Receiver. Ia akan menerima memori tentang semua hal yang berkaitan dengan sejarah masa lalu manusia melalui The Giver (Jeff Bridges). Memori masa lalu ini akan menjadi bahan pertimbangan bagi para elder dalam memutuskan sesuatu dan selama proses transfer memori inilah Jonas memutuskan bahwa apa yang dilakukan para elder selama ini ternyata salah.

Film besutan Sutradara Philip Noyce ini memiliki beberapa kelebihan teknis terutama visualisasi. Performance para pemainnya juga tidak buruk, Jeff Bridges dan Meryl Streep lah yang paling menonjol dan tampil apik. Novel The Giver bisa dibilang telah menginspirasi novel YA (young adult) lainnya seperti Hunger Games dan Divergent meskipun filmnya rilis cukup telat (20 tahun). Namun yang menarik buat saya justru konsep ceritanya yang thought provoking jika dibandingkan dengan YA lainnya, apakah Anda lebih suka segala sesuatunya terlihat hitam putih sehingga tidak ada yg menonjol? Atau penuh warna sehingga Anda bisa ‘memilih’ sesuai selera? Apakah Anda lebih suka memilih masa depan Anda sendiri atau lebih suka ditentukan orang lain? Perdamaian, emosi dan free will ternyata memiliki konsekwensi yang cukup rumit bagi kehidupan manusia, siapkah Anda menghadapinya?

It scores 7 outta 10!

Leave a Reply

Tags: