The Book of Life; colourful story of Love, Life & Death

Yang membuat saya tertarik melihat film The Book of Life karya sutradara Jorge Gutierrez sebenarnya adalah nama idola saya Guillermo Del Toro yang kali ini duduk di kursi produser, dan ternyata saya tidak kecewa. Adegan dibuka dengan sekumpulan anak-anak badung yang berkunjung ke museum dengan berat hati, namun seorang tour guide wanita mengajak mereka untuk sebuah perjalanan yang berbeda dari biasanya. Alih-aih berkeliling museum mereka malah diceritakan tentang sebuah kisah kasih di ‘Hari Kematian’ atau dikenal dengan ‘day of the dead’ dalam kebudayaan Meksiko. Ketika Meksiko menjadi pusat alam semesta (??) ada sebuah kisah tentang 3 sahabat bernama Manolo (Diego Luna) si matador yang ingin jadi musisi, Joaquin (Channing Tatum) si pendekar tangguh dan Maria (Zoe Saldana) yang hidup di kota San Angel yang berada dibawah pengawasan jendral posada, ayahnya Maria. Sementara itu ada dua orang penguasa ‘alam lain’ yaitu La Muerte (Kate del Castillo) yang memimpin the land of the remembered (mirip surga) dan Xibalba (Ron Perlman) yang memimpin the land of the forgotten (mirip neraka), mereka bertaruh siapa yang akan menikahi Maria dan pemenangnya akan menyerahkan ‘alam’ yang mereka pimpin. Xibalba yang licik menggunakan trik yang merugikan semua pihak kecuali dirinya, bahkan menyebabkan pemuda yang dicintai Maria tewas terbunuh dan disaat yang sama kota San Angel diserang bandit pimpinan Chakal yang ganas.

Rencana awalnya di tahun 2007 film ini diberi judul Day of the Dead namun seiring dengan proses produksi judulnya dirubah menjadi The Book of Life. Visualisasinya terutama dalam hal warna sangat memanjakan mata, anak-anak sudah pasti akan menyukainya meskipun mereka kemungkinan besar tidak akan mengerti jalan ceritanya. Cerita film ini menjadi salah satu kekurangan yang signifikan jika dibandingkan film animasi lain terutama buatan Disney atau Pixar. Kisahnya terlalu njelimet untuk anak-anak dan mungkin terlalu seram bila orang tua tidak mendampinginya. Yang menarik adalah dunia alam baka yang digambarkan dengan unik dengan konsep yang mirip surga dan neraka hanya saja istilahnya yang berbeda. Penggunaan istilah hantu dan mati digantikan dengan kata lain seperti the remembered dll. Lagu-lagunya juga enak didengar, favorit saya adalah versi akustik dari lagu creep yang dinyanyikan Manolo yang dulu dipopulerkan oleh Radiohead. Overall film animasi ini sangat menghibur dan kebetulan saya menyaksikan versi 4DX3D nya di bioskop Blitmegaplex MOI sehingga terasa jauh lebih seru. Anak-anak akan belajar tentang baik vs buruk dan para orang tua yang sudah memiliki rencana untuk anaknya mungkin akan sadar bahwa apa yang diinginkan sang anak juga perlu dipertimbangkan demi masa depannya.

It scores 7 outta 10!

Leave a Reply