#Partikelir

Nama Pandji Pragiwaksono sudah saya dengar sejak saya rajin mendengarkan GMHR 87,6 Hard Rock FM tahun 2008an siaran bareng sama Steny Agustaf (cameo di film ini) setiap pagi. Saya sempat komentar soal siaran mereka disini. Dan setelah menelurkan banyak karya yang menarik, akhirnya sesuai dugaan saya, Pandji membuat film. Tema yang diusung adalah kisah detektif, karena cerita detektif lokal cukup jarang hadir di bioskop maka film Partikelir bisa jadi menarik perhatian banyak orang.

Adri (Pandji) dan Jaka (Deva Mahenra) adalah sahabat sejak SMA dan sangat tertarik untuk menjadi detektif. Ketika dewasa Adri jadi detektif partikelir beneran dan Jaka memilih jadi pengacara. Saat Adri mendapatkan sebuah kasus yang cukup rumit dan melibatkan narkoba jenis baru yang disebut ‘Rantau’, ia meminta bantuan Jaka. Sayangnya Jaka tidak bersedia membantu Adri dan kliennya dengan alasan sibuk dan lebih memilih di endorse produk ‘pentil menyala’, mirip Tony Stark-nya Iron Man, tapi yang menyala bukan dadanya melainkan putingnya. Kasus tentang Rantau ini ternyata lebih rumit dari yang diperkirakan (oleh Adri & Jaka, bukan oleh penonton) dan bahkan membahayakan nyawa mereka. Lalu berhasilkah Adri dan Jaka memecahkan kasus ini? Ya iyalahh….

Menurut saya sih jelas sekali terlihat bahwa Pandji bersenang-senang, baik sebagai pemain maupun sutradara. Untuk sebuah karya perdana, film Partikelir termasuk lumayan, tapi secara keseluruhan ya tidak ada yang istimewa dan mudah terlupakan, kecuali bagi penggemarnya Pandji. Saat melihat beberapa poster film Partikelir yang memparodikan poster-poster film buddy cop, saya pikir parodinya hanya berhenti disitu. Ternyata keseluruhan film ini adalah parodi dari banyak film yang sudah ada sebelumnya. Kayaknya terlalu banyak ide yang mau dituangkan sehingga kurang fokus, bahkan untuk karakter utamanya apalagi karakter pendukungnya. Sampai film selesai saya masih gak mudeng siapa itu Adri dan Jaka serta latar belakang mereka yang lebih detail, padahal itu bisa jadi hal yang menarik jika digali lebih dalam. Memang sih ada komiknya, problemnya adalah saya gak suka baca komik dan tidak tertarik juga dengan komiknya. Menurut saya film komedi aksi ini bisa menjadi film komedi cerdas bila menghilangkan satu buah elemen; pistol (walaupun cuma mainan). Meskipun (mungkin) maksudnya memparodikan film action dan slow motionnya tapi ya tetap saja mengganggu buat saya, klo saya sih membayangkan bom molotov yang lebih familiar buat orang kita dan punya daya rusak yang mumpuni untuk menghambat penjahat yang segitu banyak. Dan saat Adri ditanya darimana belajar bikin molotov, jawabannya: MacGyver! followersnya Pandji pasti ingat bit ini. Nah.. gara-gara pistol itulah film ini jadi terasa garing buat saya, padahal banyak dialog yang cukup cerdas terutama yang terkait isu sosial karena isu sosial inilah yang jadi kelebihan karya-karya Pandji saat saya dengar lagu-lagu di CDnya yang saya beli dan bit stand up nya yang beberapa kali saya saksikan.

So, overall… tidak ada yang istimewa dari film Partikelir kecuali endingnya, karena bloopers nya ternyata lebih lucu dari film itu sendiri. Di penghujung kisah juga ada hint untuk sequel, semoga saja bisa lebih baik dan memuaskan dahaga pecinta kisah detektif (dan komedi) seperti saya tanpa harus memparodikan kisah lain, toh di negeri ini buanyak kasus nyata yang sudah lucu tanpa harus diparodikan.

Leave a Reply