Murder on the Orient Express

A crime with a killer twist? Yes it is !

Jika Anda sudah pernah baca novelnya Dame Agatha Christie yang rilis tahun 1930an ini, atau mungkin pernah nonton filmnya yang dibintangi Sean Connery tahun 1974, maka Anda akan mengerti apa maksudnya. Kalau bukunya saya belum baca, tapi kalau filmnya Sidney Lumet yang rilis tahun 74 saya masih ingat, berkat performa Albert Finney yang masih melekat di ingatan saya. Saya sih cuma bisa melongo melihat trailer dan posternya yang dengan jelas memperlihatkan siapa pelakunya. Jika Anda belum tahu sama sekali dan tertarik dengan misteri, well.. i think it’s one of the best thriller ever written (by Agatha Christie).

Setelah memecahkan sebuah kasus di Turki, Hercule Poirot (Kenneth Branagh) harus kembali ke London naik kereta api tut… tut… tuuuuutt… Di tengah perjalanan ada seorang penumpang yang tewas karena dibunuh, pembunuhnya kemungkinan masih berada dalam kereta Orient Express dan Poirot harus segera menemukannya sebelum tiba di stasiun berikutnya. Saya rasa cukup segitu plotnya, karena kalau diberi lebih banyak akan menjadi spoiler.

Karakter detektif Hercule Poirot menjadi salah satu karakter favorit saya sejak membaca buku Elephant Can Remember dan The ABC Murders, lalu saya juga gak pernah ketinggalan tiap episode serial tivi yang diperankan oleh David Suchet saat masih tayang di televisi swasta tahun 90an. Salah satu buku thriller terbaik yang pernah saya baca berjudul Curtain, kasus Poirot yang terakhir sebelum ia meninggal dan the biggest twistnya adalah Poirot is the killer. Keren! Buat saya Poirot lebih menarik ketimbang Sherlock Holmes karena Poirot fokus pada How and Why, bukan Who dunnit. Dan akhirnya formula itu dipakai untuk kisah Sherlock Holmes di serial tivi BBC berjudul Sherlock yang diperankan Benedict Cumberbatch. Serial Sherlock adalah adaptasi terbaik dan serial tivi detektif paling cerdas yang pernah saya tonton. Keren! Albert Finney dan David Suchet buat saya adalah aktor yang memorable dalam membawakan karakter Poirot, bagaimana dengan Kenneth Branagh? Saya sih jelas hanya akan mengingat kumisnya saja yang fenomenal. Seandainya ada penghargaan untuk kumis terbaik dalam sebuah film maka kumis Poirot versi Branagh pasti akan jadi juaranya. Lalu bagaimana performa Branagh memerankan Poirot? Biasa saja, saya lebih suka Finney.

Tak pelak lagi saya akan membandingkannya dengan film versi Sidney Lumet dan saya pribadi lebih suka dengan versi yang dirilis tahun 1974 tersebut. Versi sutradara Kenneth Branagh tidak jelek hanya saja kualitas penceritaannya tidak sebaik Lumet. Yang pasti Branagh sukses memanjakan mata Anda dengan desain produksi yang juara serta wajah-wajah familiar artis papan atas sehingga film ini sedap dipandang mata dari awal hingga akhir. Memang sih.. tidak mudah menjejalkan lebih dari selusin karakter penting dalam satu film berdurasi 2 jam, jadi jika Anda tertarik dengan karakternya ya sebaiknya baca bukunya untuk melengkapi ingatan Anda tentang Murder On The Orient Express.

Overall, versi terbaru Murder On The Orient Express ini tidak terlalu istimewa, mungkin karena saya sudah tahu cerita dan twistnya dari dulu dan kebetulan film ini tidak menawarkan suatu hal yang baru meskipun ada beberapa karakter yang namanya berubah, makanya jadi biasa saja. Kekurangan ‘little grey cells‘ mungkin? Well… Kekurangan atau tidak, yang pasti film ini cukup pede untuk sebuah sequel karena di akhir film Poirot harus berangkat ke Mesir. Jadi mari kita mulai membaca satu lagi novel Dame Agatha Christie yang berjudul Death on the Nile.

Leave a Reply