Can love defying gravity?

Kita semua tahu bahwa alam semesta itu penuh dengan misteri. Alkisah ada sebuah dunia dimana terdapat dua planet seperti bumi yang saling berdekatan (sangat dekat) tapi tidak bertabrakan dan mempunyai gaya gravitasi masing-masing. Orang-orang yang tinggal di dunia “atas” tidak bisa tinggal di dunia “bawah” dan begitupun sebaliknya karena mereka terikat dengan hukum alam gravitasi masing-masing dunia, bukan cuma orangnya tapi juga semua benda yang ada di masing-masing dunia terikat hukum ini. Seorang pria bernama Adam Kirk (Jim Sturgess) berasal dari dunia bawah dan jatuh cinta dengan seorang gadis dari dunia atas bernama Eden Moore (Kirsten Dunst). Mereka kerap kali bertemu di Sage Mountains yang memungkinkan mereka untuk berinteraksi lebih dekat dengan sedikit melawan gaya gravitasi, hingga suatu ketika terjadi kecelakaan yang membuat Eden terluka dan kena Amnesia dan mereka tak pernah bertemu lagi selama 10 tahun. Adam yang kini sibuk meramu sebuah krim anti penuaan, mengetahui bahwa ternyata Eden masih hidup dan bekerja di Transworld, sebuah perusahaan yang memiliki tower yang menghubungkan kedua dunia dan mempekerjakan karyawan dari dua dunia. Bila Adam bisa bekerja di Transworld maka kesempatan untuk bertemu lagi dengan Eden akan terbuka lebar dan ia menggunakan krim buatannya sebagai alasan untuk bekerja disana. Dengan bantuan Bob Boruchowitz (Timothy Spall) Adam menyusun rencana untuk bisa menemui Eden, sayangnya Eden tidak ingat siapa Adam sehingga membutuhkan usaha yang lebih keras bagi Adam untuk mengembalikan ingatan Eden dengan resiko nyawanya melayang. Di website Rottentomatoes.com banyak kritikus yang memberi nilai buruk untuk film indie scifi berjudul Upside Down ini. Saya pribadi gak setuju, there’s something beautiful about this movie. Secara keseluruhan, kisah cinta Adam dan Eden akan mengingatkan kita pada cerita Romeo & Juliet dan pastinya kisah cinta di film ini lebih indah ketimbang kisah cinta vampire dan manusia yang laku keras itu. Memang sih ada beberapa kekurangan dalam cerita yang ditawarkan film ini, tapi konsepnya itu yang membuat saya tertarik. Film Upside Down ditulis dan disutradarai oleh Juan Solanas yang aslinya berasal dari Argentina, filmnya sendiri merupakan proyek patungan antara Perancis dan Kanada. Untuk sebuah film science fiction yang bukan berasal dari Hollywood, film ini bisa dibilang juara! Eksekusi yang dilakukan Solanas dalam penataan visual dan CGI-nya benar-benar indah dan keren. Dunia serba terbalik yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya dapat ditampilkan Solanas dengan logis. Gak gampang lho membuat visualisasi yang impossible tapi believable di mata penonton, and Solanas did a great job. Banyak sekali keunikan yang ditampilkan film ini dan menjadi materi yang bisa didiskusikan panjang lebar. Kekurangan dalam penceritaan bisa saya maafkan berkat aspek teknis dan visual yang bagus, dan untungnya semua pemain tampil dengan baik. Meskipun kurang promosi, kemungkinan film ini bisa jadi mendapat tempat tersendiri di hati para pecinta scifi dan penggemar kisah romansa dengan latar belakang yang absurd.

It scores 8 outta 10!

Comments 2

  1. Agung Priantoro November 5, 2014
  2. ellen novitalia May 31, 2014

Leave a Reply to ellen novitalia Cancel reply