24 Hours to Live

Film action yang diramu dengan apik akan menghasilkan tontonan yang bukan cuma seru tapi juga berkualitas, yang menurut saya agak jarang untuk genre full action, terakhir yang cukup memorable adalah John Wick. Kini ada satu yang mencoba mengikuti resep yang digunakan John Wick hasil besutan sutradara Brian Smrz berjudul 24 Hours to Live.

Travis Conrad (Ethan Hawke) adalah seorang pembunuh bayaran yang mempensiunkan diri sejak kematian istri dan anaknya. Namun perusahaan Red Mountain tempat ia dulu mengabdi ingin agar Travis kembali ‘bekerja’, bahkan dengan bayaran yang sangat tinggi. Targetnya adalah seorang pria yang sedang dilindungi seorang agen Interpol bernama Lin (Xu Qing). Alih-alih membunuh target, Travis malah tewas ditembak oleh Lin. Ternyata eh ternyata Travis tidak jadi tewas, ia dihidupkan lagi melalui eksperimen medis ilegal yang dilakukan Red Mountain. Prosedur ajaib ini hanya berlaku selama 24 jam dan ditunjukkan dalam bentuk hitungan mundur angka digital di lengan kirinya, mirip jam digital countdown yang ada di lengan Justin Timberlake dalam film In Time. Dalam waktu 24 jam, sisa hidup Travis digunakan untuk membantu Lin dan memburu pimpinan Red Mountain untuk membalas dendam, biasalah, it’s one man show vs an army ala John Rambo, John McClane, John Wick dan berbagai John jagoan lainnya.

Sekali lagi, film ini jauh dari kata berkualitas. Pecinta film action mungkin gak setuju dengan saya karena Smrz benar-benar memanjakan penonton dengan adegan aksi yang dikoreografikan dengan sangat baik sehingga terlihat menegangkan dan memang itulah satu-satunya kelebihan 24 Hours to Live. Bahkan Ethan Hawke yang mencoba berakting mati-matian jadi terasa sia-sia gara-gara naskah yang payah. Satu lagi, film ini sempat jadi diskusi yang unik karena ada ‘cameo’ yang katanya membanggakan orang Indonesia. Cameonya bukan aktor tapi mobil Toyota Avanza warna merah (katanya sih buatan Indonesia) yang dikendarai Travis kebut-kebutan ditengah jalan raya Afrika Selatan. Buat saya sih itu keisengan marketingnya Toyota aja yang memanfaatkan momen yang pas. Saya malah mikir.. Kok bisa ya mobil selimbung Avanza kebut-kebutan ala Fast & Furious gitu? Ah.. sudahlah… gak penting!

Leave a Reply