12 Years a Slave; a very painful melodrama

Film ini diangkat dari kisah nyata, berdasarkan memoir yang dibuat oleh Solomon Northup tahun 1850an. Menceritakan pengalaman buruk Solomon tentang perbudakan di Amerika tahun 1841 hingga 1853. Solomon Northup (diperankan dengan sangat sangat bagus oleh Chiwetel Ejiofor) adalah pria kulit hitam dengan status orang bebas yang tinggal di New York dan pandai memainkan alat musik biola. Ketika ia mendapat tawaran untuk bermain musik dalam sebuah sirkus di Washington dengan bayaran mahal, ia mengiyakannya. Bukan uang yang ia dapatkan melainkan sebuah kondisi dimana ia dianggap sebagai budak yang melarikan diri. Ia telah ditipu dan dijual, pada saat itu memang perbudakan masih berlangsung di Amerika, bahkan menjadi bisnis yang bisa menghasilkan uang. Selama menjadi budak ia beberapa kali berganti majikan. Master Ford (Benedict Cumberbatch) adalah orang yang awalnya ia harapkan demi kebebasannya namun gagal karena ia dijual ke Master Epps (Michael Fassbender). Master Epps adalah pemilik kebun kapas dengan tempramen yang keras. Banyak cobaan fisik dan mental yang ia hadapi namun ia harus bertahan demi bertemu kembali dengan keluarganya di New York.

Film yang disutradarai Steve McQueen ini bisa jadi kandidat kuat pemenang piala Oscar karena memiliki banyak kelebihan baik dari sisi teknis maupun non teknis. Naskah yang ditulis John Ridley sebenarnya memiliki beberapa kekurangan, terutama dalam pendalaman karakterisasi, namun performance semua aktor yang terlibat membuat film ini membuat efek yang luar biasa bagi penontonnya. Penampilan Ejiofor sebagai Solomon patut diacungi jempol (4 jempol kalo perlu!), karena ia mampu memberikan emosi yang kuat tanpa harus mengucapkan dialog apapun, ekspresi wajah dan sorot matanya menceritakan perasaannya yang akan membuat penonton miris. Bicara soal miris, banyak adegan brutal yang ditampilkan McQueen yang (katanya) cukup akurat, karena memang pada saat itu yang namanya perbudakan dan penyiksaan tidak dapat dipisahkan, jadi siapkan diri Anda untuk menyaksikan adegan-adegan yang merobek-robek HAM dan menyakitkan. Overall.. 12 Years a Slave adalah film melodrama yang sangat perih dan menyakitkan untuk disaksikan, namun dilain hal menunjukkan keunggulan moviemaking yang luar biasa dari semua orang yang terlibat dalam pembuatan film ini. It’s a must see…!
It scores 8 outta 10!

Leave a Reply